|
Raja Dangdut Rhoma Irama masih memprihatinkan pertumbuhan musik dangdut yang terancam kehancuran fatal. "Penyebabnya sepele. Sepanjang masyarakat masih menyukai erotisme dalam musik dangdut, maka jangan harap musik itu bisa langgeng. Masyarakat akan muak dengan dangdut," ujar Rhoma di Jakarta, kemarin. Karenanya Rhoma menyarankan, jika ingin melihat dangdut tetap disukai, maka pencinta dangdut harus konsekuen memerangi goyangan erotisme di musik dangdut. Dikemukakannya, tanpa goyang erotis musik dangdut dapat berkembang dengan baik.
Diakui, saat ini perjalanan musik dangdut memang sedang jeblok. Itu disebabkan oleh dua faktor besar, yakni faktor internal dan eksternal. "Sekarang peminat dangdut memang sedang turun, tidak seperti beberapa waktu lalu, ketika tidak ada televisi yang tidak memiliki acara dangdut. Karena itu, kemudian terjadilah euforia dangdut dan banyak penyanyi dangdut yang muncul asal jadi. Ditambah lagi muncul erotisme di dangdut," kata Rhoma. Faktor erotisme ini katanya, membuat penggemar dangdut dari kalangan menengah ke bawah dan kalangan religi yang mendominasi meninggalkan dangdut. Mereka menganggap musik dangdut menjijikan dan mesum.
"Karena itu, selama erotisme masih dominan di dangdut, dangdut tidak akan pernah bangkit lagi. Erotisme di musik dangdut ini sudah keterlaluan. Dia mengancam kelangsungan hidup dangdut, sementara musik rock dan pop hampir tidak ada unsur erotismenya," ujar Rhoma.
Faktor kedua adalah faktor eksternal yang menyangkut sunatullah. Dalam kehidupan selalu ada siklus dominasi. "Kalau dalam sepak bola kesebelasan Brasil tidak selalu juara, dan dalam dunia bulu tangkis Indonesia tidak selalu juara, di musik juga demikian. Dangdut tidak selalu dominan," kata Rhoma.
Sebenarnya, menurut ayah kandung Ridho Rhoma ini, hadirnya Ridho sudah menjadi lokomotif pembangkit dangdut. Tapi sayang, belum diikuti penyanyi dan grup dangdut lainnya. |